Annyeong!! Blog baru dan bingung mau ngepost apa. Jadi TERPAKSA ngepost cerita gaje dan abstrak ini haha...
Memory
Malam begitu mencekam. Langit
yang telah dikuasai awan mendung, ditambah dengan angin yang bertiup kencang membuat
malam itu begitu menakutkan. Namun disanalah Hyun Mi. Duduk menyendiri ditemani
seberkas cahaya senter yang dibawanya. Tak pernah ia merasa bosan. Sepanjang
hari hanya ia habiskan dengan duduk menyendiri dirumah pohon yang rapuh dan
termakan usia. Entah apa yang ada dipikirannya. Tentu saja hanya dia dan Tuhan
yang tahu. Yang ada hanyalah menanti seseorang yang sangat ia sayangi pulang,
sang kakak. Namun semua itu hanya penantian yang tak berujung. Orang yang
selama ini ia rindu tak mungkin bisa kembali padanya. Ya, sang kakak telah pergi
jauh. Amat jauh dan tak mungkin bisa Hyun Mi gapai lagi. Hyun Mi, gadis kecil
itu tak pernah dan tak akan bisa menerima kepergian sang kakak. Bagaimana
mungkin ia bisa merelakan kepergian seseorang yang amat disayanginya itu.
Terlebih kepergian sang kakak bertepatan dengan hari dimana umurnya bertambah
satu tahun. Hari yang harusnya dipenuhi dengan senyum canda dan tawa, kini
berubah menjadi tangis pilu. Di pikirannya saat ini hanya dipenuhi dengan
senyum kasih sang kakak. Aliran sungai kecil tercetak indah di pipi chubby itu.
Dengan wajah yang kusut dan pucat, mata yang merah bengkak ditambah dengan
rambut acak-acakan membuatnya tak luput dari tatapan-tatapan itu. Ada yang
menatapnya iba, namun tak sedikit pula yang menatapnya jijik. Tak pernah ia pedulikan
tatapan orang-orang itu. Toh mereka tak bisa mengembalikan kakaku, begitu
kiranya yang ada di pikiran gadis itu.
Malam mulai larut. Kegelapan, kedinginan, kelaparan, kehausan telah gadi itu rasakan. Tubuhnya mulai rapuh. Tak kuat menahan beban tubuhnya sendiri. Brukk!! Rasa sakit ia rasakan disekujur tubuh mungilnya yang mulai membiru. Namun rasa itu seolah tak bisa menandingi rasa sakit dihatinya. Hatinya begitu sakit mengingat tiap memori yang ia lalui bersama sang kakak. Sekali lagi air mata mengalir membasahi pipi tembam itu. Perlahan ia menutup mata dengan seulas senyum menawan menghiasi wajah cantiknya. Setelah itu semuanya hanya putih. Dan ditengah putih itu Hyun Mi melihat kakanya tersenyum padanya. Begitu lembut.






0 komentar:
Posting Komentar